Sajak Pinggir Kota
Pukul tujuh malam
aku menghela nafas di bawah lampu taman
disamping tempat sampah dan kucing-kucing lapar.
kota ini lengang, meski sesekali kudengar riuh pengendara dan derap kaki jompo-jompo tionghoa yang pulang dari rantaunya, menutup kelontong dan terseyum saat lampu kertasnya menyala.
kota ini lengang, meski sesekali kulihat nyinyir para pribumi yang bijaksana, berceloteh di lubuk hatinya, memutar kilas balik kejayaan nenek moyang yang Maha segalanya.
pukul tujuh tiga puluh
aku beranjak,
saat adzan berkumandang
saat dupa dinyalakan
Vildri Is Fajar, Sukabumi, 14 Oktober 2016
aku menghela nafas di bawah lampu taman
disamping tempat sampah dan kucing-kucing lapar.
kota ini lengang, meski sesekali kudengar riuh pengendara dan derap kaki jompo-jompo tionghoa yang pulang dari rantaunya, menutup kelontong dan terseyum saat lampu kertasnya menyala.
kota ini lengang, meski sesekali kulihat nyinyir para pribumi yang bijaksana, berceloteh di lubuk hatinya, memutar kilas balik kejayaan nenek moyang yang Maha segalanya.
pukul tujuh tiga puluh
aku beranjak,
saat adzan berkumandang
saat dupa dinyalakan
Vildri Is Fajar, Sukabumi, 14 Oktober 2016
Comments
Post a Comment