Balada Karta Dan Roekmana
Karta!! Buka pintunya!! Teriak Soleh yang sudah tiga puluh menit lalu mengetuk pintu rumah Karta keras-keras, ia tahu ada yang tidak beres dengan temannya itu, karena sudah satu minggu ini Karta tak menunjukan batang hidungnya. Faktanya, Soleh bukan orang pertama yang menggedor-gedor pintu rumah Karta, sebelumnya ada beberapa orang tetangga dan juga Pak Ustadz, bahkan ada juga Karmin lelaki bisu tukang gali kubur yang ikut menggedor rumah Karta untuk menagih hutang. Mereka merasa ada yang aneh, sudah tujuh hari tujuh malam Karta tak keluar rumah, namun sepertinya yang lain sudah menyerah, dan hanya Soleh orang yang masih gigih menggedor pintu rumah Karta, terlebih dua hari lagi mereka harus manggung di Hajatan Haji Iming si tuan tanah.
Orang-orang mulai membicarakannya, ada yang bilang ia perg ke Batavia, ada yang bilang ia dibawa ke tumah sakit jiwa, dan bahkan ada yang bilang ia memang menghilang begitu saja dan dikutuk menjadi setan kendang. Gosip yang terakhir ini bukan tanpa alasan, beberapa tetangga memang sering mendengar suara
kendang
dari dalam rumahnya hampir tiap malam, namun saat ada seseorang yang mengetuk
pintu rumahnya suara kendang itu seketika menghilang.
Karta
adalah seorang pemain kendang yang sudah tersohor di Haur Iwung, sebuah desa
yang cukup luas, dikelilingi pohon bambu yang cukup rapat, nama Haur Iwung
berasal dari sebuah mitos turun temurun. Konon dahulu kala ada seorang perawan
tua yang sakti mandraguna bernama Nyi Layung, ia ingin punya keturunan agar
ilmu pengasihan yang dipelajarinya dapat diturunkan, hingga pada malam satu
suro Nyi Layung mendapat wangsit untuk datang ke sebuah hutan bambu di kaki
gunuung Pangrango. Lalu akhirnya ia bertemu dengan para genderuwo, buto ijo serta
demit lain penghuni hutan bambu.
Patuh
dengan wangsit yang ia terima, akhirnya Nyi Layung kawin dengan semua dedemit
hutan bambu itu, genderuwo, banaspati, sampai buto ijo ia kawini satu persatu,
namun anehnya ia tak kunjung hamil, sampai sembilan bulan kemudian, ia
mendengar tangisan dari setiap rimbunan bambu di hutan itu, didatanginya setiap
rimbunan bambu, disana ia mendapati sembilan bayi perempuan yang tengah
menangis di sela-sela batang bambu yang berdempetan, diambilnya bayi-bayi itu,
lalu ia bawa ke gubuk, ia urus mereka semua dengan penuh perhatian, namun Nyi
Layung enggan memberi mereka nama.
Tak
seperti bapaknya, wajah bayi-bayi itu sangat cantik, tak ada perut buncit, gigi
taring atau bulu-bulu panjang di sekujur tubuh mereka, sembilan bayi perempuan
itu begitu sempurna, mereka bahkan lebih mirip dayang-dayang Padjadjaran
daripada dedemit.
Ketika
kesembilan anaknya semakin tumbuh dewasa dan buah khuldi di dada mereka mulai
berontak, Nyi Layung mulai mengajari mereka ilmu pengasihannya, dan sudah tentu,
ia juga mengenalkan bagaimana cara mendapatkan pria. Tak lama setelah
kesembilan gadis itu menguasai ilmunya, Nyi Layung mati dan dikuburkan dibawah
rimbunan bambu dihutan itu tanpa nisan. Tepat sebelum Nyi Layung menghembuskan
nafas terakhir di pangkuan salah satu gadis demitnya, Nyi Layung berkata, “Haur
Iwung” yang artinya, anak bambu, kesembilan gadis demit menganggap itu adalah
nama mereka.
Empat
puluh hari semenjak kematian Nyi Layung, kesembilan gadis demit mulai keluar
dari hutan, mereka mendatangai desa-desa, seperti sifat demit kebanyakan,
kedatangan mereka ternyata menimbulkan bencana yang luar biasa. Bagaimana tidak,
hanya dengan lirikan matanya saja, gadis-gadis demit ini dapat membuat setiap
lelaki kehilangan kewarasan. Seorang pemuda tiba-tiba berlari dengan kedua
tangan dan kakinnya percis seperti anjing, bersujud menciumi kaki salah seorang
gadis demit dan memohon untuk dijadikan suaminya, begitu pula dengan lelaki
lainnya, tua, muda bahkan jompo yang impoten dsekalipun langsung sembuh dan
lari dengan penuh birahi menghampiri para gadis demit, setelah itu para lelaki
birahi akan mengikuti kemanapun para gadis demit pergi, sehingga mereka tampak
seperti arak-arakan.
Dari
satu desa ke desa lainnya, gadis-gadis demit berhasil memikat ratusan lelaki,
dari tukang kayu hingga juragan sapi, dari pemabuk hingga pemuka agama, perjaka
sampai duda. Jelas ini menjadi sebuah bencana besar bagi para isteri dan
perawan. Alhasil pada masa itu semua desa mengalami paceklik laki-laki, karena
kekasih serta suami-suami mereka dibawa para gadis demit kedalam hutan bambu.
Lambat
laun setiap desa mulai ditinggalkan penghuninya, para janda dan perawan lebih memilih
mencari kehidupan di tempat lain ketimbang harus mati sebagai tuna asmara,
sementara itu didalam hutan bambu para gadis demit sedang bergelora, mereka
mengawini semua lelaki yang mereka bawa dengan membabi buta. Tua,muda,perjaka
sampai jompo mereka kawini tanpa tebang pilih. Perhelatan bejat itu terus
berlangsung siang dan malam selama tujuh belas hari, disaksikan pula oleh genderuwo,
banaspati dan buto ijo yang merasa bangga dengan kelakuan anak gadis mereka.
Setelah
sembilan bulan, layaknya manusia, gadis-gadis demit mulai melahirkan banyak
anak yang sudah tentu tak jelas siapa bapaknya, dan mulai hari itu, hutan bambu
yang dahulu menyeramkan kini telah berubah menjadi sebuah peradaban baru,
sebuah desa yang terbentuk dari kudeta para demit atas manusia, desa itu mereka
beri nama “Haur Iwung” percis seperti nama kesembilan gadis demit.
***
Nama
Karta sering dibicarakan gadis-gadis muda, kepiawaiannya menabuh kendang juga
diakui orang-orang desa, terlebih Karta memang punya paras yang tampan,
badannya memang tak terlalu tinggi, namun wajahnya yang manis ,kulit agak gelap
khas pemuda priangan serta kumisnya yang tipis berhasil membuat gadis-gadis
berkhayal untuk bisa tidur dengannya, ia juga juga pemuda yang terbilang
shaleh, setiap petang ia selalu menyempatkan diri pergi ke masjid, dan tak
jarang ia ditunjuk menjadi bilal.
Lantunan
adzannya memang tak semerdu Pak Ustadz, namun suaranya yang sedikit serak
menjadi ciri yang unik sehingga ia juga memiliki banyak pendengar setia,
alhasil hampir setiap maghrib saat Karta selesai adzan, gadis-gadis berlarian
ke Masjid, begitu menggebu-gebu untuk ikut shalat berjama’ah meskipun itu
sunnah. Pak Ustadz sudah sering menghimbau gadis-gadis itu untuk shalat di
rumah saja, namun beberapa dari mereka berkata “kami sebagai wanita juga ingin
memakmurkan Mesjid pak! pak Ustadz harus paham emansipasi! Memang laki-laki saja
yang boleh ke Masjid?”.
Karena banyaknya gadis-gadis yang begitu kukuh
untuk tetap memakmurkan masjid, Pak Ustadz akhirnya menyerah dan mempersilahkan
mereka, karena itu pula kini pemuda-pemuda lain juga ikut shalat maghrib
berjama’ah di masjid, alih-alih membawa semangat syiar agama, para pemuda lebih
bersikap apa adanya, saat ditanya Pak Ustadz, mereka cuma bilang “mungkin di
masjid ini kita bisa dapat jodoh”.
Berkat
Karta, setiap maghrib kini Mesjid selalu penuh oleh gadis-gadis feminis dan
pemuda-pemuda birahi, meskipun terasa sedikit menggelikan, karena kini Masjid
lebih seperti biro jodoh, namun Pak Ustadz tetap mempersilahkan siapapun untuk
ikut beribadah, karena dahulu ia pun mendapatkan makmum hidupnya dari Masjid
ini, hampir sama seperti Karta, ia mengawali karirnya sebagai bilal dan dahulu
pun banyak yang terhipnotis oleh suara adzannya.
Karta
adalah pemuda yang mandiri, ibunya meninggal saat melahirkannya, sementara itu
ayahnya tewas dalam sebuah geriliya ketika umurnya baru dua belas tahun, ia
hanya diwarisi sepetak kebun singkong didepan rumahnya serta dua ekor kambing
tua sakit yang hampir mati, sejak saat itu ia menghidupi dirinya sendiri dengan
berjualan daun singkong dari rumah ke rumah karena umbinya ia makan sendiri,
begitu seterusnya, sampai satu waktu Haji Iming datang ke rumahnya dan
memberitahukan bahwa ayahnya berhutang sejumlah uang dengan menjaminkan sepetak
kebun sinkong warisannya. Dengan begitu yang tersisa hanya sepasang Kambing tua
sakit yang Karta miliki.
Karta
tak kehabisan akal, ia masih bisa makan dengan menjual pupuk kandang dari
tai-tai kambing yang ia kumpulkan, hasilnya bahkan sedikit lebih tinggi
ketimbang ia berjualan daun singkong, namun itu tak berlangsung lama, karena di
suatu pagi ia mendapatkan sepasang kambingnya mati bersamaan, mereka memang
sepasang kambing yang sudah tua, tapi satu hal, ia dibuat takjub ketika melihat
mereka mati dengan posisi kemaluan si jantan yang masih tertancap ke lubang
betinanya, ia tersenyum “tak apalah setidaknya mereka mati bahagia”. Dengan
begitu habislah sudah bisnis pupuk kandangnya. Mulai saat itu Karta memutuskan
untuk berhenti sekolah.
Para
tetangga yang tahu akan hal tersebut merasa iba dan berniat untuk membeli
mayat-mayat kambingnya, namun Karta menolak, ia lebih memilih untuk menguburkan
mereka disamping rumah dan membuat nisan untuk masing-masing kambing tua itu,
ia memberinya nama Rama untuk si jantan dan Shinta untuk si betina. Sebelumnya
Karta menguliti mereka terlebih dulu, lalu menguburkan mereka dalam keadaan
telanjang. Kulit-kulit kambing tua itu kemudian dijemurnya berhari-hari hingga
kering, tetangganya mengira kali ini Karta akan memulai bisnis kerupuk kulit
atau semacamnya, namun perkiraannya meleset, Karta malah pergi ke sanggar Pak
Sudrajat dengan membawa kulit kambingnya, disana ia memohon pada Pak Sudrajat umtuk
dibuatkan kendang dari kulit kambing yang ia bawa, sebagai bayarannya ia akan
bekerja di sanggar.
Semenjak saat itu Karta mulai menjadi tukang
bersih-bersih, dan mengerjakan apapun yang bisa ia kerjakan disana, mulai dari
mengecat ulang gong tua yang berkarat sampai mengetok beberapa alat musik yang
penyok, Pak Sudrajat yang senang dengan kerjanya seringkali memberinya upah,
disana jugalah Karta berkenalan dengan Soleh, anak dari Pak Sudrajat yang
sebaya dengannya, ia dan Soleh berteman akrab, Karta juga sering ikut ke
beberapa perhelatan desa yang mengundang sanggar musik Pak Sudrajat, dan tak
berapa lama kendang yang ia pesan sudah jadi.
Kali
ini Karta memohon kembali pada Pak Sudrajat untuk tetap bekerja di sanggar dan
belajar kendang, jelas saja Pak Sudrajat mengizinkannya, dan betapa kagetnya
Pak Sudrajat ketika mengetahui Karta telah mahir bermain kendang hanya dalam
waktu dua hari, disinilah Pak Sudrajat mulai melihatnya sebagai anak yang
berbakat.
Bermodal
kendang dari kulit kambing tuanya, semakin lama, Karta makin mahir bermain
kendang, menguasai berbagai teknik pukulan hanya dalam waktu satu atau dua
hari, dalam satu bulan ia bahkan sudah lebih mahir dari para seniornya di
sanggar, di usianya yang masih menginjak dua belas tahun, Karta sudah dipercaya
menjadi pemain inti grup sanggar pak Sudrajat, disana ia seringkali mengiringi
gerakan para penari jaipong.
Makin
lama, para penabuh kendang yang lain mulai keluar dari sanggar karena frustasi tak
mendapat giliran manggung, Pak Sudrajat lebih sering menunjuk Karta sebagai
pemain inti, selain karena kemahirannya, usia Karta yang masih bocah menjadi
daya tarik tersendiri bagi penonton, beberapa mantan pemain kendang sanggar pak
Sudrajat memang tak terima, mereka mengira kendang Karta yang dibuatkan Pak
Sudtajat diisi semacam ajian khusus dan mengandung khodam agar siapapun yang
memainkannya dapat menjadi mahir dalam sekejap, ada juga yang mengira kalau
kulit kambingnya lah yang menjadi kunci, beberapa dari mereka menyebut bahwa
suara kendang dari kulit kambing birahi dapat membuat siapapun yang
mendengarnya ikut terhipnotis dan ikut bergoyang.
Tapi
nyatanya, Karta memang berbakat, bukan cuma kendang yang bisa ia tabuh, gong,
bonang, calung, saron, gelas, piring sendok, ember-ember butut, bahkan pantat
sapi pun bisa ia tabuh sedemikian rupa dan tetap terdengar merdu, terbuktilah
bahwa Karta memang terlahir sebagai penabuh sejati, mantan-mantan pemain
kendang sanggar Pak Sudrajat pun berhenti membicarakannya dan belakangan
kebanyakan dari mereka alih profesi sebagai dalang topeng monyet, atau
mendirikan sanggarnya sendiri, sanggar monyet.
Karta
mulai menikmati profesinya sebagai penabuh kendang, ia mulai mendapat bayaran
setiap kali ia manggung dan itu cukup untuk memenuhi kebutuhannya, hari-hari ia
isi dengan bermain kendang di sanggar, bermain bersama Soleh dan teman
sebayanya, jika sudah petang ia pulang ke rumah, mandi dan berangkat ke masjid
untuk mengaji.
Tahun
demi tahun Karta dipenuhi oleh cerita kesuksesannya sebagai penabuh kendang,
entah sudah berapa ratus kali pagelaran serta hajatan yang ia lakoni, ia mulai
terkenal, bahkan lebih terkenal dari nama sanggarnya, bahkan wedana yang
menjabat saat itu tahu betul dengan sosoknya, ia tumbuh menjadi pemuda yang
dikagumi banyak gadis, namun di usianya yang sudah menginjak dua puluh tahun,
Karta belum pernah sekalipun terlihat
menyukai seorang perempuan. Soleh yang kini menjadi penerus bapaknya sebagai
pemilik sanggar pun heran dan mengira bahwa Karta sudah terlalu cinta dengan
kendangnya, mungkin Karta lebih bernafsu pada kambing fikirnya, pernah suatu
hari Soleh bertanya pada Karta,
“kenapa kau tak kunjung menyanding wanita?”
“aku
masih mencintai kendang”
“sudah
kuduga, kalau diibaratkan wanita, kendangmu sudah seperti Mak Turah, perawan
jompo yang tinggal di kebun bambu dekat kuburan itu”
“ya,
mungkin aku akan kawin dengan mak Turah”
“goblok!!”
Sanggar
Sudrajat sudah terkenal ke berbagai pelosok desa, namanya tetap “Sanggar
Sudrajat” meskipun Pak Sudrajat sudah mati dua tahun lalu karena diabetes
melitus, Soleh tetap mempertahankan nama “Sanggar Sudrajat” sebagai bentuk bhakti
pada almarhum bapaknya.
Satu
waktu, Sanggar Sudrajat tengah kekurangan penari jaipong, karena para penari
lama sudah banyak yang menikah dan menua, pantat mereka sudah kempes, karena
mungkin sudah sering ditabuh suaminya, Soleh rasa goyangan mereka sudah tak semenarik
dahulu, maka, ia memutuskan untuk mengadakan sayembara bagi setiap gadis
perawan di Haur Iwung.
Selebaran
mulai di tempel di setiap sudut desa Haur Iwung, tulisannya besar sekali,
sepertinya jompo yang sudah rabun juga dapat membacanya “JADILAH BAGIAN DARI
SANGGAR SUDRAJAT, DICARI ENAM “GADIS PERAWAN” PENARI JAIPONG, SAYEMBARA AKAN
DIADAKAN PADA HARI AHAD DI ALUN ALUN DESA” ditambah dengan iming-iming bodoh
yang ditulis sendiri oleh Soleh, “BERSANDINGLAH DENGAN KARTA SI PENDEKAR
KENDANG” selebaran di tempel di mana-mana,
di tembok-tembok rumah, di pos ronda, di pemandian umum, bahkan ada yang
iseng menempelkannya di bilik rumah Mak Turah.
Seketika
itu pula semua gadis dibuat panas dingin menantikan hari sayembara itu, selama
tujuh hari semenjak selebaran itu disebar, Haur Iwung terasa seperti medan
perang bagi para gadis disana, semuanya tampak berlatih keras, para gadis mulai
melatih gerakan-gerakan tari yang mereka bisa, bersolek seindah mungkin,
marendam diri dengan air mawar yang dicampur dengan rempah, minum aneka ramuan,
melakukan puasa mutih,dan bahkan ada
yang nekat mencuri tali pocong perawan di kuburan untuk ilmu pengasihan, namun
malang nasibnya, gadis satu itu gagal karena ternyata tali pocong itu milik
seorang perjaka. Gadis itupun kesurupan, menjadi gila dan akhirnya dibawa ke
rumah sakit jiwa di Batavia.
Puncak
peperangan pun telah tiba, sekitar pukul tujuh pagi, puluhan gadis sudah mulai
berkumpul di alun-alun desa, padahal sayembara dimulai pukul sebelas siang,
mereka begitu bersemangat dan berhasrat untuk menjadi penari, dengan tubuh
serta kulit mereka yang mulus hasil tempaan puasa, minum ramuan serta mandi
mawar dan campuran rempah selama tujuh hari tujuh malam, menbuat mereka
terlihat bak bidadari khayangan yang akan begitu sukarela dicuri selendangnya
oleh Karta si pendekar kendang.
Wangi
dari tubuh mereka menyebar, menelusup ke jendela-jendela kamar para pemuda,
sontak para pemuda di Hawur Iwung terbangun dan membuat mereka berkumpul di
pinggir lapangan, dengan mata yang masih bengkak dan belek-belek yang masih
menggantung, mereka duduk sambil menikmati pemandangan yang jarang mereka temukan.
Menjelang
siang, alun-alun semakin ramai, para pedagang mulai berdatangan, dan untuk
meramaikan suasana, beberapa pemuda diam-diam mulai memasang taruhan, mereka
bertaruh, perempuan mana yang akan lolos sebagai penari, alhasil saat itu
alun-alun benar-benar tampak seperti pasar dadakan.
Matahari
sudah hampir ada diatas kepala, dengan riuh tepuk tangan para warga desa,
anggota Sanggar Sudrajat mulai berdatangan membawa alat-alat musik mereka ke
tengah lapangan, karpet besar digelar oleh beberapa orang anggota sanggar, sisanya
mempersiapkan alat musik masing-masing termasuk Karta, seketika itu pula
gadis-gadis mulai berteriak kecil penuh kegirangan, mereka terkesima melihat
Karta yang begitu berkarisma mengenakan pangsi hitam dan ikat kepala, Karta
langsung saja duduk bersila dengan sepasang kendang di pangkuannya.
Setelah semua siap, Soleh langsung
mancatat nama-nama gadis yang akan ikut sayembara, puluhan gadis mengantri
berdasarkan nama mereka, acara dibuka oleh alunan musik para anggota sanggar
serta atraksi debus singkat dari seorang pemuda yang meminum minyak tanah dan
menyemburkan api dari mulutnya, sayembara dimulai.
Saat-saat itu adalah peperangan yang
nyata bagi para gadis di Haur Iwung, bersenjatakan kesintalan pantat, wangi
tubuh dan jari-jari yang lentik, mereka berlenggak lenggok mengikuti alunan
kendang sambil menatap tajam menggoda kearah Karta, dengan nafsu birahi dan
keyakinan hati yang mantap mereka bersaing mendapatkan posisi penari di sanggar
Sudrajat, dengan begitu mereka bisa dapat kesempatan untuk menjadi istreri
Karta.
“aku
berani bertaruh, Tak ada satupun dari gadis-gadis ini yang akan diperisteri
oleh Karta” celetuk salah satu pemuda pada temannya yang sedang khidmat
menonton sambil menghisap rokok kretek.
“aku
kira juga begitu, karena aku dengar Karta lebih nafsu pada kambing daripada
wanita”
“ya
aku percaya itu, yang aku dengar Karta bahkan berencana kawin dengan Mak Turah”
“semoga
saja, dengan begitu gadis-gadis ini bisa jadi milik kita”
Soleh duduk tepat disamping Karta,
sibuk mencatat nama-nama wanita yang ia nilai pantas, ia merasa bangga dengan
dirinya yang dapat menggelar sayembara sebesar ini, sesekali ia memperhatikan
para mata para gadis, berharap keberadaannya disamping Karta dapat mencuri
perhatian, namun nyatanya mata para gadis hanya tertuju pada Karta.
Sayembara selesai, ditutup oleh
Nirah, salah satu peserta sayembara yang menangis karena keseleo di menit-menit
pertama menari, ia berjalan meninggalkan arena dengan perasaan gagal atas
pertempuran yang telah ia persiapkan berhari-hari, ia berjalan pincang kearah
peserta lain, bukannya menenangkan, gadis-gadis lain malah saling tertawa
cekikikan, mereka semua bersyukur, karena dengan begitu setidaknya saingan
mereka berkurang satu.
“aku
akan memilih lima dari enam gadis yang akan menjadi penari, sementara satu
perempuan lagi kuserahkan pada Karta” teriak Soleh kepada puluhan gadis yang
sudah tak sabar menunggu nama mereka di panggil. Soleh sengaja menyisakan jatah
satu penari untuk Karta pilih sendiri, dengan begitu ia bisa tahu, gadis macam
apa yang menjadi selera Karta, karena pada kenyataannya gadis-gadis disini tak
ada yang mirip kambing.
Para pemuda masih setia menonton
sayembara, berkerumun di mengelilingi lapangan dengan rokok-rokok kretek dan
uang taruhan di tangan, belek-belek masih juga menggantung di sudut mata
mereka, padahal waktu sudah hampir petang.
Soleh membuka catatannya dan
mengumumkan satu persatu dari lima gadis yang ia pilih, setiap nama yang ia
sebutkan disambut riuh para penonton, termasuk pemuda-pemuda yang kegirangan
karena menang taruhan, semua keriuhan itu terus berlangsung sampai Soleh
menyebutkan nama gadis kelima yang ia pilih, “Nirah”.
Seketika keriuhan berubah menjadi
bisik-bisik cemoohan dari para penonton dan
peserta lain yang kecewa, karena mereka tahu, Nirah tak menyelesaikan
tariannya.
“ini
tidak adil, bagaimana bisa kau memilih seorang gadis pincang?” teriak salah
seorang gadis yang tak terima Nirah dipilih, terlebih lagi dirinya memang tak
terpilih.
“tak
masalah jika ia pincang, ia akan sembuh dalam beberapa hari, lagi pula aku tahu
gadis mana yang harus aku pilih” timpal soleh penuh pembelaan.
“ia
juga bukan perawan! Ia mantan isteri Haji Iming!”
Seketika wajah Nirah menjadi merah
padam, bangkit dari duduknya dan berteriak lantang pada kearah wanita yang
menyebutnya bukan perawan.
“aku
memang pernah menikah dengan Haji Iming! Tapi aku bersumpah aku masih perawan!”
“pembelaan
bodoh macam apa yang kau katakan itu?”
“dengar!
Aku memang janda dan telah bercerai dengan Haji Iming, tapi dia belum pernah
sekalipun membobol keperawananku! Burungnya tak pernah mau bangun!”
Pembelaan Nirah yang menggebu-gebu
cukup membuat penonton dan gadis lain bungkam, dari pernyataan Nirah juga lah
semua orang di desa Haur Iwung tahu bahwa Haji Iming yang hobi mempersunting
wanita itu adalah seorang kesatria tanpa pedang, untung saja saat itu Haji
Iming sedang minggat ke rumah Isteri keduanya di Buitenzorg. Fakta mencengangkan
itu setidaknya membuat Soleh tak mengeluarkan banyak tenaga untuk mengoceh, ia juga senang karena akhirnya
Nirah, wanita yang disukai Soleh sejak lama, kini telah menjadi bagian dari
sanggar miliknya.
“baiklah
kini giliran penari keenam yang akan ditentukan oleh Karta” potong Soleh,
memecah keheningan mendadak akibat drama kecil Nirah. Puluhan gadis kembali
dibuat tegang, menjadi penari yang dipilih Soleh memang sebuah keberhasilan,
namun dipilih langsung oleh Karta sang pendekar Kendang merupakan sebuah
kemenangan besar dan kebanggaan tersendiri atas peperangan yang melelahkan ini.
“aku
tak akan memilih siapapun diantara mereka” celetukan itu spontan membuat
puluhan gadis kembali kecewa, berbeda dengan sebelunya, kali ini gadis-gadis
bungkam, mereka seolah ingin tetap terlihat tegar didepan Karta.
Tak
lama, pandangan Karta tertuju pada sesosok pedagang perempuan di ujung lapangan
yang sedang duduk dibawah pohon sirsak, tak ada satupun orang yang membeli
dagangannya, karena keberadaannya hampir tidak disadari oleh siapapun.
didepannya terdapat dua buah nampan bambu bulat besar dengan pincuk-pincuk daun
pisang berisi aneka potongan kelopak bunga warna-warni bercampur kamboja, ia
juga menjual boneka-boneka bambu berbalut kain perca, kepala boneka itu terbuat
dari batok kelapa, membuatnya lebih tampak seperti jailangkung.
“Nyai!
Teriak Karta dari tengah lapangan, kini semua orang mulai ikut menatap
perempuan itu, ada keheningan yang ganjil saat semuanya dibuat penasaran dengan
sosok perempuan yang dipanggil Karta.
“Nyai
Kemarilah!” kini si perempuan jailangkung itu menoleh kearah Karta, semua orang
bahkan belum bisa melihat dengan jelas wajah perempuan itu, karena ia memakai
semacam kerudung hitam dari kain tipis yang menjuntai, ia juga mengenakan
kebaya tua warna ungu, dengan balutan kain jarik bermotif melati, sekilas, ia
tampak sangat mirip dengan mak Turah.
Perempuan itu bangkit, membawa kedua
nampan bambu dan selusin boneka jailangkungnya, kini para warga yang menonton
serentak membukakan jalan untuk si perempuan jailangkung, ia berjalan perlahan
ke arah Karta, masih dengan kerudung yang menjuntai dan kepalanya yang menunduk
membuat banyak orang penasaran, beberapa diantara mereka bahkan mengeryitkan dahi sambil agak
membungkuk, penasaran dengan wajah perempuan itu, ada semacam aura mistis yang
janggal saat ia berjalan, terlebih lagi ada semacam aroma sirih dan kamboja
dari kebaya tuanya.
Si Gadis jailangkung menaruh semua
dagangan anehnya di depan Karta, duduk dengan merapatkan kedua lututnya, ia
masih tertunduk, seolah tak ingin siapapun melihat wajahnya
“Nyai,
kau satu-satunya perempuan yang tak ikut sayembara”
“aku
tak berminat”, suaranya terdengar tegas namun lembut, menambah kemistisan yang
membuat orang lain bergidik.
“apa
yang bisa kulakukan untuk membujukmu?” tanya Karta. Semua orang merasa takjub,
karena setelah sekian lama, baru kali ini Karta terdengar memohon pada seorang
wanita.
“aku
cuma lewat dan mencoba peruntungan dengan daganganku ini”
“baiklah,
akan kubeli semua bunga dan boneka jailangkungmu, asalkan kau bersedia ikut”
“ini
bukan jailangkung! Ini mainan anak-anak, anak-anak setan" tambahnya dengan
nada yang berbisik.
“ya,
kelak jika aku mati, aku juga akan jadi setan, kubeli semuanya”
Setelah tawar menawar yang ganjil
itu, si perempuan jailangkung akhirnya sepakat untuk ikut sayembara, menari di
depan Karta dan semua warga serta gadis-gadis yang sedari tadi masih diam
digerayangi aura mistis dan rasa penasaran.
“siapa
namamu Nyai?” Soleh kembali membuka catatannya, ia juga begitu penasaran, siapa
sebenarnya gadis jailangkung ini.
“aku
masih belum terlalu tua untuk kau panggil nyai, panggil aku Roekmana”
“baik
Roekmana, apa kau mau tetap menari dengan kain dikepalamu?”
Roekmana membuka kain tipis yang
menjuntai menutupi kepalanya, seketika itu aura mistis yang tadi ia pancarkan
berubah menjadi aura yang luar biasa memabukan, saat Roekmana melepas
kerudungnya, terlihat sebuah pancaran wajah yang paripurna, rambut hitam legam terurai
jatuh sampai di bahunya, hidungnya yang mungil berpadu dengan bibirnya yang
tipis,binar bola mata coklat terang dengan bulu matanya yang lentik.
Semua orang menganga, begitu
terkesima, mereka terlihat begitu tak percaya dengan apa yang ada di depan mata
mereka, tampak hanya para pemanin musik dan Karta lah yang masih terlihat
waras, Karta hanya tersenyum kecil, namun terlihat jelas dari matanya, bahwa ia
pun begitu kagum dengan keparipurnaan Roekmana, Soleh yang sadar akan hal itu
merasa puas, karena untuk pertamakali dalam hidupnya Karta tersenyum pada
wanita.
Semua makin menjadi-jadi ketika
sanggar Sudrajat mulai memainkan musiknya, Roekmana mulai membentang kedua
tangannya, ia mulai melentikan jari-jarinya sembari memasang kuda-kuda, berjinjit
menyunggingkan pantatnya yang sintal sempurna dan membusungkan dada dengan
buahnya yang begitu ranum terbungkus kemben berlapis kebaya ungu. Roekmana berlenggak-lenggok
dengan anggun perlahan mengikuti tabuhan gendang serta alat musik yang begitu
syahdu, makin lama tempo musik semakin cepat, tabuhan kendang kulit kambing
birahi milik Karta dipadu dengan tarian Roekmana yang begitu menggelora membuat
semua orang yang melihat begitu hanyut dalam suasana.
Semua orang yang melihatnya dibuat
benar-benar setengah gila, ada semacam nafsu yang tersirat dari mereka berdua,
sehingga mereka lebih terasa seperti bercinta ketimbang menari, alunan kendang
Karta yang memburu, menggerayangi setiap jengkal tubuh Roekmana, sementara
Roekmana yang begitu pasrah penuh gelora menikmati setiap cumbuan iramanya. Gelora
birahi mereka begitu terasa, seorang remaja tiga belas tahun bahkan terlihat
sedang masturbasi di tengah kerumunan penonton tanpa ada satupun yang
memperdulikannya.
Semuanya
hampir dibuat hilang akal sampai lantunan adzan maghrib Pak Ustadz memecah
lamunan gila semua orang di lapangan, padahal langit belum begitu gelap,
sengaja Pak Ustadz adzan dua puluh menit lebih cepat, ia sadar betul bahwa
alunan musik serta tarian Roekmana bisa jadi petaka, karena bagi pak Ustadz
menit-menit penuh nafsu tadi setara dengan gempa bumi atau semacamnya.
Akhirnya
tarian Roekmana terhenti seketika, begitu juga dengan semua alunan musik dan
gerakan tangan si remaja masturbasi, semuanya kembali pada kesadaran mereka
masing-masing, semua penonton sibuk mennyadarkan dirinya sendiri sementara Karta
bangkit dari duduknya dan menghampiri Roekmana.
“ini,
terimalah, aku sudah berjanji membeli semua bunga dan jailangkungmu tadi, ini
baru sebagian, datanglah ke sanggar dan akan kuberikan sisanya”
“tidak,
ini sudah lebih dari cukup, dan satu hal, boneka-boneka itu bukan jailangkung,
itu mainan anak-anak”
“anak-anak
setan” ucap Roekmana dan Karta berbarengan, itu membuat mereka tertawa kecil
“kau
akan datang ke sanggar besok kan?” tanya Karta penuh harap, baru kali ini ia
meminta sesuatu pada wanita.
“entahlah,
akan aku fikirkan” ucap Roekmana sembari memakai kerudungnya lagi
“dimana
aku bisa mencarimu?”
“datanglah
ke rumah Mak Turah” ucap Roekmana sambil berlalu meninggalkan Karta yang masih
diigerayangi semacam perasaan ganjil yang meletup-letup.
Semua
orang mulai mendapatkan kembali kesadarannya, selesai adzan mereka semua
beranjak pergi ke masjid, namun pak Ustadz berlari dari mimbar ke gerbang untuk
menghadang orang-orang itu sebelum mereka berhasil masuk ke dalam.
“pulanglah!
Hanya aku yang akan solat di masjid petang ini!, pulang dan mandi besar!
Tidakkah kalian sadar apa yang sudah kalian alami?”
Semua
orang sepertinya mengerti apa yang Pak Ustadz maksudkan, para gadis peserta
sayembara, pemuda-pemuda dan juga Karta pulang ke rumahnya, termasuk si remaja
masturbasi yang baru sadar celananya basah. Tak ada solat berjama’ah maghrib di
masjid petang itu, semuanya sibuk mandi besar.
Karta pulang kembali ke rumahnya,
membawa nampan bambu berisi bunga-bunga aneh dan selusin boneka jailangkung
serta ingatan dari menit-menit paling indah dan perasaan ganjil yang belum
pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan itu membuat fikiran Karta melayang
kemana-mana, membuatnya tak khusyuk saat mandi besar bahkan saat solat maghrib.
Fikirannya cuma tertuju pada sosok Roekmana, pada setiap jengkal bagian
tubuhnya, dan kilas balik keindahan paripurna yang ia rasakan ketika Roekmana
menari di depan matanya. Semakin malam semuanya semakin menjadi, perasaan
ganjil itu kini membuatnya panas dingin, Karta meringkuk memeluk kendangnya, di
tengah fikiran yang tengah kacau, Karta tahu, bahwa ia sedang terserang demam,
demam Roekmana.
Roekmana adalah anak dari Mak Turah,
si perawan tua yang tinggal di hutan bambu dekat kuburan, Mak Turah memang
masih perawan, karena Roekmana tidak lahir dari rahimnya.
Suatu malam, di umur Mak Turah yang
ke enam puluh dua tahun, ia bermimpi di datangi segerombolan demit, wajah
mereka begitu menakutkan, dengan taring, bulu-bulu kasar yang panjang, perut
buncit dan mata menyala, demit-demit itu datang ke hadapan Mak Turah dan tanpa
basa-basi mereka langsung menindih Mak Turah, menghujamkan kemaluan mereka
secara bergantian.
Dalam
mimpinya yang terasa begitu nyata, Mak Turah tak bisa berbuat apa-apa, ia cuma
bisa menjerit tanpa suara, tubuhnya yang renta bukan tandingan bagi para
demit-demit itu. Tapi aneh, lama kelamaan ia malah mulai menikmatinya, karena
untuk pertamakali setelah enam puluh dua tahun, ia bisa merasakan bagaimana
rasanya bercinta. Mak Turah akhirnya pasrah diperawani para demit sampai esok
paginya ia terbangun dengan keringat membasahi sekujur tubuhnya.
Sembilan
bulan setelah mimpi yang musykil itu, suatu malam Mak Turah mendengar suara
tangisan bayi tak jauh dari rumahnya, ia mencari sumber suara itu, sampai
akhirnya ia terhenti di salah satu rimbunan pohon bambu dan melihat seorang
bayi mungil menangis diantara sela-sela rimbunannya. Tanpa berfikir apapun Mak
Turah mengambil bayi itu dan dibawanya kedalam rumah.
Tak
ada yang tahu itu bayi siapa, Mak Turah hanya mengira mungkin bayi itu adalah
hasil hubungan haram para pemuda dan gadis yang baru akhil baligh, atau
kuntilanak yang buang anak, Mak Turah sama sekali tak ingat mimpinya bersama
para demit sembilan bulan lalu, bayi itu kemudian ia urus. Karena air susunya
sudah surut, Mak Turah seringkali memberinya air endapan beras dan bubur gula
merah, Mak Turah juga memberinya nama Roekmana, itu adalah nama yang selalu
diimpikannya bila suatu saat ia bisa punya anak.
Roekmana,
diurus dengan penuh perhatian oleh Mak Turah, Roekmana tumbuh menjadi anak
perempuan yang sangat cantik seperti dayang Padjajaran, bahkan ketika masih
berumur enam tahun. Mak Turah sengaja tak pernah memperlihatkan Roekmana
kehadapan para warga desa, karena ia fikir nanti warga desa akan berfikiran
macam-macam soal anaknya, Roekmana juga tak pernah sekolah/.
Pernah
suatu di suatu pagi ketika Roekmana masih berumur tujuh tahun, tahu, Karmin
datang bersama bapaknya untuk mengubur ajag peliharaannya di lahan kosong dekat
kuburan, saat itu Karmin tak sengaja mendengar gemericik air dari bilik kamar
mandi Mak Turah, Karmin yang penasaran kemudian melesat dari pengawasan
bapaknya dan pergi ke bilik kamar mandi Mak Turah untuk mengintip, ia penasaran
bagaimana bentuk buah dada seorang perawan jompo, namun kali itu nasibnya kurang
mujur, bukan Mak Turah yang ia lihat, melainkan seorang gadis kecil telanjang
bulat sedang sibuk mengguyutkan air ke tubuhnya, Karmin seketika terkejut
melihat betapa luar biasanya tubuh gadis kecil itu, seperti mengeluarkan cahaya
yang langsung membuat dirinya tak bisa
berkata-kata,
Beberapa
waktu kemidian, Karmin ditemukan bapaknya sedang meringkuk di bawah pohon bambu
dengan wajah yang pucat dan tubuh yang menggigil. Semenjak saat itu Karmin
sudah tak lagi bisa berbicara, bapaknya mengira Karmin bisu karena dijahili
demit pohon bambu.
Semakin
lama, Roekmana tumbuh menjadi seorang gadis dengan wajah yang begitu cantik, dan
Mak Turah sadar bahwa kecantikan anaknya dapat menimbulkan bahaya, maka ia tak
memperbolehkan Roekmana berjalan-jalan di desa kecuali dengan kerudung kain
panjang serta baju-baju milik Mak Turah yang ia berikan pada Roekmana. Itulah
mengapa selama ini warga desa Haur Iwung tak ada yang menyadari keberadaan
Roekmana sama sekali, karena mereka mengira Roekmana adalah Mak Turah.
Hingga
suatu hari, Roekmana merasa bosan, lalu ia melihat ada selebaran sayembara yang
ditempel di bilik rumah, ia membacanya dan ia sangat ingin datang ke sayembara
itu untuk membunuh kebosanannya, Mak Turah mengizinkan, tentu saja dengan
memakai kerudung serta baju tuanya. Roekmana yang senang berinisiatif untuk
mengambil bunga serta kelopak kamboja untuk ia jual, Roekmana juga sengaja
membuat boneka-boneka kayu, sayembara itu pasti ramai fikirnya, siapa tahu ada
anak kecil yang akan tertarik membeli bonekanya, anak setan pun tak apa-apa
asalkan dagangannya laku terjual.
Setelah berkutat dengan demamnya
semalam, Karta beranjak dari kasur dengan keadaan yang tak jauh berbeda,
tubuhnya masih menggigil, kali ini wajahnya terlihat pucat, matanya merah dan
berair, Karta langsung mandi dan bergegas menuju sanggar, berharap disana ia
akan bertemu Roekmana, gadis yang membuatnya tak bisa tidur semalaman.
Sesampainya di sanggar ia langsung
menyelonong masuk kearah gadis-gadis yang kemarin terpilih sebagai penari,
termasuk Nirah yang langsung salah tingkah ketika melihat Karta, gadis-gadis
itu dibuat keheranan dengan gerak-gerik Karta yang begitu tergesa-gesa, tidak
dengan Soleh yang langsung menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan
sahabatnya, Soleh pun langsung tahu bahwa Karta sedang mencari Roekmana.
“pergilah
ke rumah Mak Turah, saat ini sedang banyak laki-laki datang kesana untuk melamar
Roekmana”
“baik,
aku akan pergi” kata Karta dengan nafas yang tak beraturan
“tunggu,
kau juga mau melamarnya?”
“aku
akan langsung mengawininya!” Karta langsung berlari keluar sanggar, menyenggol
beberapa kepingan saron.
“makanlah
dulu, Roekmana tak mungkin mau kawin dengan mayat!” teriak Soleh yang ternyata
memperhatikan wajah Karta yang begitu pucat.
Benar kata Soleh, sekarang di rumah
Mak Turah sudah terdapat banyak sekali lelaki yang mengantri, sekitar delapan
puluh orang, mereka menunggu giliran masuk kedalam rumah, menunggu di tanah
kosong samping kuburan dekat rumah Mak Turah. Para lelaki itu berpakaian rapih
dan bersih layaknya orang-orang nasrani dalam peti mati, lengkap dengan bunga
dan bau tubuh beraroma maskulin. Sebagian besar dari mereka adalah pemuda
berbelek penghisap rokok kretek yang kemarin menonton seyembara, termasuk si
remaja masturbasi yang susah payah mengikat kerbaunya pada rimbunan bambu,
rencananya kerbau itu akan ia jadikan mas kawin.
Karta terpaksa ikut mengantri bersama
lelaki-lelaki itu, sebagian dari mereka terkejut mengetahui Karta yang juga
ingin melamar Roekmana, namun sebagian dari mereka tetap merasa percaya diri
karena melihat Karta yang hanya mengenakan kemeja belel, celana pangsi dan
sandal jepit, bahkan Karta tak membawa apa-apa untuk mas kawin.
Sudah
ada sekitar dua puluh lelaki yang keluar dari rumah Mak Turah dengan ekspresi
kecewa, sudah jelas, pasti Roekmana menolak lamarannya. Sebenarnya Mak Turah
lah yang menentukan siapa yang pantas menjadi suami bagi anak gadisnya,
sementara Roekmana tetap diam di kamar.
“mengapa
kau merasa pantas mengawini anakku?” tanya Mak turah singkat, kepada seorang
laki-laki kurus yang membawa bunga anggrek bulan lengkap dengan potnya.
“aku
punya kebun anggrek, mungkin Roekmana suka bunga anggrek?”
Namun Mak Turah hanya menggelengkan
kepalanya dan lelaki itu pergi dengan isyarat tangannya yang kurus dan peot.
Maka tibalah giliran selanjutnya dengan alsan-alasan mereka.
“aku
adalah lelaki paling parlente di desa ini” kata si lelaki ke empat puluh
“aku
punya tanah yang luas” kata si lelaki ke lima puluh tiga
“sebentar
lagi aku lulus kuliah di Batavia” ka si lelaki ke enam puluh empat
“aku
punya burung yang panjang dan kuat dan akan segera memberimu cucu” kata si
lelaki ke tujuh puluh sembilan.
Semua alasan lelaki-lelaki itu di
tolak Mak Turah dengan cara yang sama, hanya menggelengkan kepala dan
menyuruhnya pergi dengan isyarat tangan, sampai tiba giliran si remaja
masturbasi, dan kali ini pertanyaan Mak Turah sedikit berbeda,
“mau
apa kau datang kemari bocah” tanya Mak Turah, sambil tersenyum geli
“tentu
saja untuk mengawini anakmu Mak” jawab si remaja masturbasi dengan keyakinan
yang mantap.
“dan
mengapa kau pantas kawin dengan anakku?”
“aku
punya dua kerbau yang kubesarkan sendiri dari mereka kecil”
“lantas
kenapa tak kau kawini saja mereka berdua?” ledek Mak Turah dengan sedikit tawa,
seolah asik mempermainkan kesungguhan si remaja masturbasi.
“aku
bersungguh-sungguh mak!” tegas remaja itu sambil menajamkan mata, seolah tak
ingin dipandang sepele oleh Mak Turah.
“baiklah,
apa lagi yang kau punya?”
“aku
punya cinta Mak,cinta yang begitu besar untuk Roekmana”
“kalau
begitu bercintalah dengan kerbaumu, lalu datanglah lagi kalau mereka sudah
punya anak” timpal Mak Turah yang kali
ini mengakhiri percakapan dengan lambaian tangan yang sama.
Si remaja masturbasi, langsung
tertunduk malu dan melangkah pergi keluar dengan langkah yang begitu cepat,
dibawanya kembali kerbau-kerbau yang ia ikat sambil menggerutu, “dasar nenek
gila, disuruhnya aku kawin dengan kerbau”.
Tibalah giliran Karta yang kali ini
masuk dengan wajah pucat, selain demam ia juga sangat tegang, karena jika ia
ditolak Mak Turah, maka ia yakin demamnya tak akan sembuh sampai kapanpun, tak
seperti lelaki lain yang memikirkan beribu alasan untuk melamar Roekmana, Karta
hanya datang dengan apa adanya. Banyak lelaki yang gagal melamar Roekmana
mengintip dan menunggu di depan rumah Mak Turah, mereka penasaran, lelaki
seperti apa yang sebenarnya dicari Mak Turah untuk anaknya.
“katakan
menagapa kau pantas mengawini anakku”
“aku
belum pernah mencium perempuan manapun di dunia ini, termasuk ibuku sendiri”
Perkataan
itu keluar begitu saja dari mulut Karta, tanpa ia pikirkan terlebih dulu, Mak
Turah yang mendengarnya langsung diam sejenak dan menatap wajah Karta,
detik-detik menegangkan itu terasa lama sekali bagi Karta, ini adalah sayembara
yang secara tidak langsung diadakan oleh dorongan nafsu birahi para pemuda di
Haur Iwung, dan jelas sayembara ini begitu menantang bagi Karta.
“neng!
Keluarlah dari kamarmu” sapa Mak Turah dengan nada yang lebut penuh kasih
sayang memanggil Roekmana keluar dari kamarmya. Dilihatnya sosok Roekmana yang
Karta fikirkan semalaman, demamnya seketika turun, wajah pucatnya kini berseri
kembali. Roekmana berdiri di sebelah Mak Turah menunduk patuh sambil tersenyum
malu melihat Karta di depannya.
“aturlah
tanggal perkawinan kalian secepatnya sebelum aku mati” ucap Mak Turah penuh
ketegasan sambil membelai lebut tangan anaknya.
“tujuh
hari lagi mak, aku akan mengawininya dalam tujuh”
Para pemuda yang mencuri dengar di
pinggir rumah Mak Turah tiba-tiba bersorak dan berhamburan berlari sambil
berteriak “KARTA AKAN KAWIN DENGAN ROEKMANA MINGGU DEPAN!! Dengan sekejap kabar
itu langsung menyebar.
Sejak hari itu Haur Iwung diselumiti
suka cita, setiap orang ikut senang dengan kabar rencana pernikahan Karta dan
Roekmana mereka adalah pasangan yang sempurna,
meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa kabar itu juga merupakan kabar
duka bagi para gadis yang telah mengidolakan Karta sejak lama, dan pemuda yang
mengagumi Roekmana semenjak sayembara di alun-alun, kini mereka harus patah
hati dan mengubur harapannya dalam-dalam.
Menjelang hari pernikahan Karta dan
Roekmana, tersebar kabar bahwa Roekmana terlahir tanpa ayah dan Roekmana adalah
anak yang lahir dari bambu, sejak saat itu, banyak juga yang mengaitkan
Roekmana dengan Mitos Haur Iwung dahulu kala.
“benar
kau mau kawin dengan Roekmana? Orang-orang bilang ia lahir tanpa ayah” ucap
Soleh yang sekarang sibuk mempersiapkan rangkaian acara pernikahan sahabatnya.
“benar,
lagi pula kenapa aku harus khawatir jika ia lahir tanpa ayah? Aku juga lahir
tanpa ibu”
“kabarnya
ia juga lahir dari bambu, seperti gadis demit dahulu kala”
“aku
lebih baik kawin dengan demit daripada harus menderita karena demam seumur
hidupku” balas Karta dengan nada sedikit bercanda.
“kau
memang sahabatku yang paling goblok!” ucap Soleh, dan kali ini mereka berdua
tertawa bersama.
Soleh memang sahabat karib Karta, ia
tidak datang pada hari dimana semua lelaki pergi ke rumah Mak Turah untuk
melamar Roekmana, karena ia tahu sejak awal bahwa Karta memang menyukai
Roekmana, dan saat ini Soleh secara sukarela memberikan sebagian besar uangnya
dari hasil manggung untuk menyelenggarakan pesta yang meriah bagi Karta. Soleh
Sudah menganggap Karta sebagai saudara laki-lakinya, terlebih ia juga
beranggapan bahwa pernikahan Karta dan Roekmana harus jadi pernikahan yang
sempurna, karena mereka adalah pasangan yang sempurna pula. Karta sangat
berterimakasih pada Soleh, dan berjanji akan membantunya mendapatkan Nirah
suatu hari nanti.
Hari-hari penuh penantian akhirnya
tiba, Kali ini semua orang berkumpul di Masjid untuk menyaksikan akad nikah
Karta dan Roekmana, para gadis mengenakan pakaian terbaik mereka, sambil
berkhayal bodoh, berharap Karta akan berubah fikiran dan menikahi salah satu
dari mereka dihari pernikahannya, setali tiga uang dengan para lelaki yang
kembali mengenakan baju khas orang nasrani yang seminggu lalu mereka kenakan
untuk melamar Roekmana.
Semua duduk bersila, kelambu putih
terjuntai diatas kepala Karta yang begitu gagah serta Roekmana yang tetap
tertunduk anggun dengan kebaya putih, sementara Mak Turah duduk di belakag
mereka. Tepat setelah ijab qobul dan semua saksi berucap “sah”, Mak Turah
Menghembuskan nafas terakhirnya, mendadak saat iitu semua orang berucap
“innalillahi”. Mak Turah tampak begitu bahagia diakhir hayatnya, terlihat
guratan senyum yang lebar di wajah Mak Turah.
Alhasil hari yang mestinya bahagia
bagi Karta dan Roekmana, harus berubah jadi duka, Roekmana menangis di pelukan
Karta, masih dengan baju pengantinnya, mereka berdua dan seluruh warga desa
ikut menghantar Mak Turah ke liang lahat, siapa sangka, wanita tua yang dahulu
dijauhi bahkan ditakuti banyak orang, kini mati dalam keadaan bahagia dan
pemakamannya dihadiri oleh seluruh warga.
Sanggar Sudrajat yang telah dihias
sedemikian rupa dan acara yang telah disusun begitu matang terpaksa harus
dibatalkan untuk menghormati kematian Mak Turah, berkilo-kilo daging ayam, sapi
dan kerbau, serta seluruh hidangan prasmanan dibungkus dan dibagikan ke rumah-rumah
warga. Begitu pula dengan malam pertama Karta dan Roekmana, mereka sepakat
untuk menundanya selama empat puluh hari, karena menurut Roekmana selama itu,
arwah Mak Turah masih ada dan mengawasinya, ia tak ingin bercinta bersama Karta
sambil dipergoki arwah ibunya, itu akan jadi hal yang memalukan.
Setelah menikah, kini Roekmana
tinggal bersama di rumah Karta, hari-hari pertama mereka lewati dengan penuh
kesabaran, menahan birahi, terutama Karta, yang memang sangat berusaha keras
untuk tak dulu mencumbu Isterinya yang cantik luar biasa. Karta kembali bekerja
di sanggar Sudrajat sementara Roekmana kini ikut dengan suaminya di sanggar,
menjadi penari tunggal. Kehadiran Roekmana membawa keuntungan besar bagi
sanggar Sudrajat, dalam seminggu mereka mereka bisa tiga sampai empat kali
manggung, nama Roekmana menjadi tersohor dimana-mana, bersanding dengan nama
suaminya.
Orang-orang seringkali dibuat
ketagihan melihat penampilan pasangan ini, mereka semua ketagihan merasakan
sensasi orgasme hanya dengan mendengarkan alunan kendang Karta dan tarian Roekmana,
sebagian orang lagi menganggap bahwa tabuhan kendang dan tarian mereka adalah
obat mujarab, karena sudah beberapa kali terbuki, banyak jompo-jompo impoten
yang sembuh, termasuk Haji Iming, orang-orang yang tuli bisa kembali mendengar,
yang buta bisa kembali melihat, kecuali Karmin, meski telah berpuluh-puluh kali
melihat penampilan Karta dan Roekmana, entah kenapa ia tetap bisu.
Sudah genap empat puluh hari
kematian Mak Turah, kini mungkin Mak Turah telah benar-benar pergi, dengan
begitu mereka bisa bebas bercinta. Karta meminta jatah cuti manggung pada Soleh
untuk dia dan isterinya selama tujuh belas hari, mereka berencana bulan madu di
rumah saja.
Maka
dari itu, dihari ke empat puluh satu kematian Mak Turah, mereka mulai bercinta
dengan penuh nafsu, diatas kasur yang sudah mereka berdua hias sedemikian rupa,
mereka saling memburu jengkal demi jengkal kenikmatan tubuh pasangannya,
menikmati desah demi desah serta sengatan-sengatan nakal yang mereka lancarkan,
kaki-kaki tempat tidur berdecit kencang, diselingi lenguhan kenikmatan di
setiap menitnya, tubuh yang dibasahi keringat bercampur liur dan tanda-tanda
merah gelap di hampir sekujur tubuh menjadi saksi keliaran mereka berdua.
Hal
itu mereka lakukan setiap pagi dan malam, hanya berseling makan dan
bercengkrama sebentar setelah itu mereka kembali menjadi binatang liar, ini
adalah buah dari kesabaran Karta, puasa menahan diri dari godaan perempuan
selama bertahun-tahun, dan kini ia bisa mendapatkan lebih dari sekedar
perempuan, karena Roekmana lebih seperti bidadari, tak peduli ia keturunan
demit atau bukan, yang pasti ia begitu mencintainya.
Hari-hari
penuh keliaran terus berlanjut, bukan hanya diranjang, meja makan, kamar mandi
sampai kuburan Rama dan Shinta menjadi arena pertarungan mereka, keliaran
mereka terus berlanjut setiap hari tanpa absen sama sekali sanpai hari ke tujuh
belas.
Tiga
bulan berlalu, Karta dan Roekmana menjadi pasangan yang begitu diidolakan
banyak orang Haur Iwung, para pemuda
begitu heran, kenapa Karta bisa terlihat begitu tegar menghadapi kecantikan
Roekmana yang luar biasa, jika bukan Karta mungkin seseorang akan kehilangan
akalnya, atau mungkin jadi bisu seperti Karmin di malam pertama. Begitu juga
dengan para gadis yang berfikir betapa anggun dan kuatnya Roekmana bisa tahan
dengan ketampanan Karta, mungkin jika bukan Roekmana, mereka tak akan
membiarkan Karta keluar rumah untuk bekerja, mereka akan terus mengurungnya
dalam kamar untuk bercinta setiap saat. Hal seperti itulah yang menjadi topik
pembicaraan para gadis dan pemuda setiap harinya.
Namun
kisah cinta Karta dan Roekmana tak berlangsung lama, suatu pagi, Karta
mendapatkan isterinya tengah menggigil hebat, badannya panas, tampaknya
Roekmana terserang malaria, Karta mencoba mengompres dahi isterinya dengan
handuk, esoknya ia mendatangkan seorang mantri tua dari Batavia, namun mantri itu
tiba-tiba mati karena epilepsi ketika melihat kecantikan Roekmana, Mantri itu
jatuh di lantai dengan mata terbuka dan mulut berbusa. Seorang dukun dari desa
sebelah bahkan dibuat gila karena kesurupan arwah leluhurnya tepat saat melihat
wajah Roekmana, ia berteriak-teriak, melolong seperti anjing birahi, mendadak
membuka celananya dan berusaha menghunuskan burungnya pada Roekmana, beruntung
Karta langsung menariknya keluar kamar dan menghajarnya sampai pingsan.
Tak
ada yang bisa Karta lakukan kecuali mengompres isteriya dan tak membiarkan
siapapun masuk ke kamarnya, termasuk Soleh, Karta absen dari jadwal-jadwal
manggung yang sudah di rencakan, terpaksa soleh harus mencari pemain kendang
sementara dengan menajak mantan-mantan pemain kendang sebelumnya yang kini
mendirikan sanggar monyet. Lalu tak lama Roekmana mati diatas tempat tidurnya
karena malaria.
Karta
langsung mendatangi rumah pak Ustadz dan memberitahu keadaan isterinya, ia lalu
berlari ke rumah Karmin si tukang gali kubur, saat itu Karmin yang masih
tertidur dikagetkan oleh suara pintu rumahnya yang berdebam keras, dilihatnya
Karta yang sedang mengacak-acak lemari tua miliknya.
“bangun,
ada pekerjaan untukmu hari ini” Karta yang terlihat begitu misterius pergi
meninggalkan Karmin, dengan membawa beberapa buntalan kafan di tangannya.
Karmin tak menegeri apa yang
disampaikan Karta, sampai akhirnya kabar menyebar begitu cepat, hari itu Haur
Iwung digegerkan oleh kabar kematian Roekmana. Semua orang lagsung menghampiri
rumah Karta, karena menganggap ini adalah kabar burung, namun mereka salah.
Mereka melihat pintu rumah Karta yang terkunci, ada selendang kuning yang
sengaja Karta bentangkan memanjang, disangkutkan pada dua buah paku kecil di
kedua sisi pintu rumahnya.
Semua orang memanggil-manggil nama
Karta, namun tak ada jawaban, di dalam rumahnya Karta sedang memandikan jenazah
isterinya seorang diri, ia membaringkannya di atas meja makan di tengah rumah,
dibasuhkannya beberepa gayung air ke tubuh polos isterinya, lalu ia balut pula
tubuh isterinya dengan kain kafan yang ia ambil dari rumah Karmin, terakhir ia
baringkan tubuh Roekmana di kamar, mengambil wudhu dan menyolatkannya
sendirian, lalu ia tutup wajah Roekmana dengan sisa kafan yang ia potong, Karta
tak ingin ada orang lain yang melihat wajah Roekmana. ia hanya ingin dirinyalah
yang orang terakhir yang melihat wajah Isterinya.
Orang-orang
diluar makin ramai, pintu rumah dibuka, Karta akhirnya keluar, dilihatnya Pak
Ustadz dan juga Soleh, mereka berdiri dihadapan Karta, dari ekspresi wajahnya,
mereka berdua tampak begitu khawatir.
“Roekmana
sudah kumandikan dan aku solatkan, kalian hanya perlu membawanya ke pemakaman”
ucap karta yang tak terlihat sedih sedikitpun, wajahnya begitu datar tak bisa
ditebak.
Pak Ustadz dan Soleh hanya bisa
mengangguk tanpa berkata sepatah katapun, dimasukannya Roekmana kedalam keranda
yang sudah dipersiapkan warga, ditutup kain hijau bertuliskan “innalillahi
wainnailaihi raji’uun” serta beberapa rajutan bunga melati dan kamboja kesukaan
Roekmana yang dikalungkan diatasnya, jenazah Roekmana dihantar ke peemakaman oleh
empat pemanggu, Karta suaminya, Pak Ustadz, Soleh dan si remaja masturbasi yang
begitu kukuh ingin membantu, si remaja masturbasi berujar, “meskipun aku tak
bisa menyandingnya di perkawinan, setidaknya aku dapat mengahantarnya ke
pemakaman”. Kepergian Roekmana diiringi arak-arakan beratus-ratus warga desa
Haur Iwunng yang begitu berduka
Dimasukannya jenazah Roekmana ke
liang kubur, diiringi isak tangis para gadis serta gema dari lantunan doa para
warga, Karta turun ke liang kubur, mengumandangkan adzan untuk isterinya, itu
adalah adzan paling indah yang pernah orang-orang dengar, entah kenapa kali ini
kumandang adzan Karta terasa berbeda dari biasanya, seperti ada kesedihan yang
dalam di setiap kalimatnya.
Setelah semuanya selesai, Karta
masih terlihat tegar, tak ada setetespun air mata yang di pipinya, hanya wajah datar dengan sorotan
mata yang kosong, ia langsung beranjak pergi meninggalkan pemakaman, tak
memperdulikan siapapun, termasuk pak Ustadz, Soleh, bahkan Karmin yang dari
tadi menunggu upah dari jasanya menggali kubur. Karta pulang ke rumahnya,
dilihatnya ruang tengah yang becek bekas ia memandikan jenazah Roekmana.Ia
masuk ke kamar, mengunci pintu dan mengurung dirinya untuk waktu yang tak
ditentukan.
Malam pertama kepergian Isterinya
Karta lewati dengan perasaan sedih yang begitu dalam, Karta mulai menangis,
wajahnya memerah, sedetik kemudian air mata tumpah diiringi raungan halus penuh
kecewa dan duka yang mendalam, mengenang detik-detik kersamaannya dengan
Roekmana yang terasa begitu singkat. Ia berfikir mengapa dirinya tak mati juga?
Seperti kedua Rama dan Shinta yang terkubur damai di samping rumahnya.
Pada
malam kedua dan malam-malam berikutnya, rasa dukanya yang mendalam kini berubah
menjadi perasaan ganjil yang yang tak bisa ia jelaskan, perasaan itu percis
seperti perasaan yang dulu pernah ia rasakan saat pertamakali bertemu Roekmana,
Karta kemudian mengacak-acak lemari bajunya, mencari foto Roekmana, mereka tak
punya foto pernikahan, karena di hari itu mereka sibuk mengurus pemakaman Mak
Turah, satu-satunya yang ia punya adalah foto Roekmana saat manggung bersama
dirinya di salah satu hajatan wedana.
Ditempelkannya
foto Roekmana itu diatas kendang kambing tua miliknya, lalu ia mulai menabuh
kendang itu sambil memandangi foto isterinya lekat-lekat, membayangkan Roekmana
menari dengan iringan kendang miliknya, terbukti, perasaan ganjil itu lumayan
berkurang, kini hampir setiap tengah malam Karta bermain kendang dengan cara
yang sama, begitu terus selama tiga hari tanpa makan, minum bahkan mandi, ia
kini mulai tampak seperti orang gila, bila lelah ia akan tertidur dengan
sendirinya.
Pada
hari keenam, Karta bermimpi didatangi mendiang isterinya, dalam mimpi itu ia
menyaksikan Roekmana yang sedang menari dengankeadaan telanjang, tersenyum
padanya seolah mengajaknya bercinta, Karta lalu terbangun tengah malam dengan
sosok Roekmana yang masih jelas terbayang, seketika itu pula birahinya mendadak
muncul, dadanya terasa ditekan-tekan kuat, tangannya bergetar, bergerak gerak
seolah merindukan kelembutan kulit isterinya.
Karta
lalu mengambil sebotol minyak kelapa di meja rias isterinya dan masturbasi
diatas tempat tidurnya, namun itu tetap tak bekerja, birahinya masih
meledak-ledak, sampai akhirnya Karta terus masturbasi berkali-kali hingga
minyak kelapanya habis, tapi itu tetap sia-sia. Tangannya malah semakin
bergetar hebat, matanya kini terbelalak lebar, nafsunya malah semakin memuncak,
Karta seperti keranjingan oleh birahinya sendiri, menggigit-gigit kuku jarinya,
menjambak rambutnya sendiri dan mencakar tubuhnya sendiri seperti monyet
rabies.
Ditengah
kegilaannya karta melihat kebaya,kemben,sanggul serta kain tenun milik Roekmana
yang tergantung di samping meja rias, ia memandangnya beberapa lama, diatas
meja rias ia juga lihat beberapa riasan yang biasa dipakai isterinya, bedak,
gincu, pensil alis lengkap dengan minyak wangi kamboja yang biasa dipakai
isterinya saat menari, Karta lalu beranjak dari tempat tidurnya, mengambil
kebaya Roekmana, lalu menyesapnya dalam-dalam, ia memang sedikit merasakan
kehadiran Roekmana dari bau kebaya itu, namun tak cukup sampai disana.
Karta
lalu membuka baju dan celananya hingga ia telanjang bulat, lalu ia mengganti
pakaian dalamnya dengan pakaian dalam milik isterinya, Karta lalu mengambil
kembali kebaya, lengkap dengan kemben sanggul dan kain tenun, ia lalu
memakaikan semua itu pada tubuhnya, Karta juga perlahan mulai merias dirinya
dengan segala yang ada di meja rias, ia bercermin, menaburi wajahnya dengan
bedak, melapisi bibirnya dengan gincu serta menyemprotkan minyak wangi kamboja
ke lehernya, percis seperti yang biasa dilakukan Roekmana.
Karta
lalu berdiri memandang cermin, ia tersenyum dan melihat betapa percisnya ia
dengan Roekmana, ia tertawa kecil menutupi bibir merahnya, itu membuatnya
semakin mirip dengan Roekmana. Atas dasar birahi yang menggila serta cinta yang
begitu dalam, tiba-tiba Karta melenggak-lenggokan tubuh dan kepalanya, perlahan
ia mulai menari dengan gerakan percis seperti yang Roekmana biasa lakukan,
Karta terus menari tanpa irama sambil memandangi bayangan Roekmana dalam
cermin.
Semakin
lama, Karta makin merasakan kehadiran isterinya, ia bahkan lupa bahwa Roekmana
telah mati, maka kali ini Karta mulai mencumbu Roekmana, ia mulai mengelus-elus
wajahnya sendiri, menjilati tangannya dan meremas dadanya sendiri, tangannya
bahkan mulai menggerayangi selangkangannya dengan begitu liar demi imemenuhi
dahaga birahi dan rasa rindunya mendalam pada Roekmana. Dengan begitulah
akhirnya Karta bisa mendapatkan isterinya kembali. Karta akhirnya pingsan di
depan meja rias isterinya sampai malam berikutnya.
***
Karta
buka pintunya!! Teriak Soleh yang sudah satu jam menggedor pintu rumah Karta
tanpa henti.
“buka pintunya atau
kudobrak!” teriak Soleh yang begitu khawatir, namun ia yakin Karta belum mati.
“tunggu sebentar Soleh”
sahut Karta dengan nada yang lemah dari dalam kamarnya.
“setidaknya bukakanlah
pintu, biarkan aku masuk!” paksa Soleh dengan nada ragu-ragu
“tunggulah disitu!
“percayalah kau tidak akan mau melihat isi rumahku yang sudah seperti kandang
babi” sahut Karta, sambil melepas semua pakaian Roekmana dan bergegas ke kamar
mandi,
Satu jam lagi Soleh menunggui Karta di depan rumahnya, ia
lega bisa mendengar kembali suara sahabatnya yang masih hidup setelah tujuh
hari tujuh malam. Karta akhirnya keluar dengan pakaian rapi dan rambut yang
basah sehabis mandi. Ia terlihat begitu kurus.
“ Goblok!” teriak Soleh
pada Karta, sambil memukul batok kepalanya. “Aku kira kau sudah mati”, semua
orang menunggumu di sanggar, termasuk Karmin yang cerewet karena jasa gali
kuburnya belum kau bayar”
“belikan aku makan, aku
lapar sekali” jawab Karta tak nyambung.
“iya akan kubelikan, tapi
kemana saja kau selama ini? Semedi di kamar?” tanya soleh sambil reflek menutup
mulutrnya, ia merasa candanya terlalu berlebihan.
“aku minta untuk beberapa
harikedepan aku bisa pulang sebelum gelap” jawab Karta tak nyambung lagi, namun
kali ini permintaannya nampak serius. “aku rindu bertemu isteriku”
Perkataan
terakhir Karta membuat Soleh enggan bertanya apa-apa lagi, mereka berdua lalu
jalan menuju rumah makan dan kemudian datang ke sanggar, berlatih untuk hajatan
Haji Iming lusa nanti. Sorenya Karta pulang dari sanggar dengan girang, tak
sabar untuk bertemu isterinya lagi.
Comments
Post a Comment