Kuta Dikamarku


Lembayung berganti gelap, riuh mahasiswi STIKES yang baru pulang kampus, kini berganti menjadi suara jangkrik yang bersahutan, sesekali terdengar lingkingan suara token listrik yang hampir habis, agak menganggu, tapi biarlah,toh suara itu dari kosan tetangga, gumamku yang baru saja selesai basa-basi dari kamar Septo, si kurus penjaga nyala api, begitu aku menyebutnya.

Aku punya banyak teman disini, ada si kurus penjaga nyala api, si jangkrik dan si batak titisan Wali Songo, bukan tanpa alasan aku menyebut mereka begitu, namun sudahlah, panjang juga bila kuceritakan satu-satu.

Aku teringat saat tadi si batak Wali Songo bilang, “pid, elu mah jarang keluar sih” dengan nada tinggi serta gaya bahasanya yang belepotan hasil akulturasi antarai betawi, batak, dan sunda, “gua ketokin kemaren siang juga lu kaga nyaut” sambung si jangkrik.

Ya, memang mereka kerap kali heran denganku yang beberapa minggu ini jarang keluar kamar, mereka mengira belakangan ini aku jadi pribadi yang pendiam, bahkan si kurus menuduh aku sedang semedi, menanti mukzizat agar dimudahkan bikin skripsi.

Wajar bila mereka berfikir begitu, karena sebenarnya mereka tidak tahu bahwa sejatinya aku adalah seorang pengelana, “traveler” begitu orang-orang kini menyebutnya. Mereka tidak tahu kalau selama ini diam-diam aku sering menyelinap keluar kosan, pergi sejauh mungkin meninggalkan kota, aku sudah berkelana kemana-mana, pergi nonton bioskop, menonton konser musik, ke diskotik, pergi ke saritem, bahkan dua hari lalu aku baru saja pulang umroh, aku sangat merahasiakan hal ini dari mereka, karena aku memang seorang “solo traveler”, dan kali ini aku berencana untuk pergi ke Kuta Bali.
***

Singkat cerita aku sudah duduk di bangku pesawat, mnedengarkan instruksi dari pramugari yang berlenggak-lenggok sambil tersenyum menerangkan prosedur situasi darurat, yang paling aku suka adalah ketika si pramugrari memakai jaket pelampung, seraya ia meniupnya dengan bibir tipis berbalut gincu merah merona, aku bisa lihat sisa gincunya menempel pada pentil pelampung itu, “oh Tuhan, jadikan aku pelampung”.

Lamunan cabulku pecah oleh suara wanita yang berkata “selamat datang di Bandara Ngurah Rai Bali”, sementara si wanita dalam speaker terus mengoceh aku sibuk melihat kearah jendela pesawat, melihat garis kuning yang berlari serta hamparan tanah yang dijuluki The Island Of Paradise ini, “anak-anak di kosan pasti pada sirik nih kalo mereka tau aku ke Bali” cibirku.

Aku turun dari pesawat, mengambil barang-barangku dan langsung memesan taksi menuju Kuta, hanya sepuluh menit, karena saat itu lalu lintas sedang lengang, sesampainya aku di Kuta, aku langsung turun dari taksi, membanting pintunya dengan keras, tanpa banyak bicara aku berikan dua lembar uang seratus ribuan, sambil berlari menuju pantai, aku teriak “ambil aja kembaliannya pak!” sekilas kulihat si sopir taksi menggelengkan kepalanya, lalu kudengar suara mobilnya yang perlahan hilang oleh deburan ombak, “Bali!” teriaku di tengah kerumunan.

Saat itu aku langsung duduk di kursi pantai, kutanggalkan bajuku dan kujadikan tasku sebagai bantalan, kebetulan saat itu pas pukul lima sore, ruam-ruam senja sudah mulai tampak, beberapa pribumi sudah mulai agak sibuk melayani beberapa turis yang memesan minuman, tak terkecuali aku yang spontan menegur seorang wanita, “mbak, es teh manisnya satu ya”, aku penasaran bagaimana rasa es teh manis bila di minum di sisi pantai Kuta, mungkin akan jadi Vodka? Entahlah.

Beberapa menit kemudian es teh pesananku datang,ku rogoh saku celanaku, memungut beberapa lembar rupiah untuk kuberikan, namun wanita itu menyela, “nanti saja bayarnya pak, santai dulu saja”, wah, orang-orang disini memang ramah pujiku dalam hati.

Tak lama langit mulai menguning, senja sudah benar-benar kentara di cakrawala Kuta, banyak kepala yang mulai tengadah, menikmati detik-detik bola jingga yang tenggelam diujung lautan, ada yang sambil memeluk pasangannya,memeluk anjingnya, memeluk lututnya (mungkin sedang yoga) atau berbaring di kursi pantai seperti yang aku lakukan sekarang.

Astaga! Saking takjubnya aku sampai lupa kalau aku punya es teh Vodka! Dengan syahdu kuseruput es teh manis buatan wanita tadi, “Ya Tuhan rasanya memang benar-benar Vodka!” manis, pahit bercampur citarasa senja dengan sedikit bau amis lautan, Ya Tuhan!! Gumamku sambil terus menyeruput es teh Vodka ini yang belum kunjung habis.

Tok..tok..tok!! “pid minta odol”

teriak si kurus penjaga nyala api yang langsung menyelonong masuk ke kamarku, sial! Aku lupa mengunci pintu.

“ tumben mandi malem-malem to”

“mau seksalian nyuci pid, biar besok siang bisa kering”

“sok ambil aja, itu odolnya di ember”

“oke, makasih pid, itu teh gelas masih ada ga? Minta yah”

Ia meminum teh gelasku lalu pergi. Mendadak aku kembali ke kamarku, meninggalkan Kuta, senja serta es teh vodka yang belum habis ku seruput bahkan belum sempat ku bayar. Mulai saat itu aku berjanji, aku akan kembali kesana lain waktu dan lain kali aku harus lebih teliti, memastikan kamarku benar-benar dikunci.

Vildri Is Fajar 04 September 2019

Comments

Popular Posts