Kucumbu Kau Dengan Bismillah


Sudah pukul sembilan lwat lima belas, si jangkrik, si kurus penjaga nyala api dan si titisan Wali Songo sudah pulang ke peraduannya masing-masing, malam ini akan jadi malam yang panjang dan melelahkan fikirku, pasalnya, libido-ku sedang naik-naiknya, sudah diubun-ubun. Maka dari itu aku berinisiatif meminum sebotol kratingdeng, “biar kuat”.

Sudah dua hari aku dan dia tak saling tegur sapa, bukan merajuk, tapi aku yang memang sibuk rebahan, dua hari ini juga si kurus selalu tidur di kamarku, rasanya kurang enak juga kalau aku harus “melakukannya” didepan si kurus, nanti siapa yang akan mengajaknya bicara? Namun akhirnya malam ini tiba juga, dimana kita hanya berdua saja.

Ada ritual khusus yang biasa aku lakukan dengannya, pertama, kumatikan lampu dan kunyalakan tumblr-ku, agar lebih romantis kuputar lagu Fourtwenty, “fana merah jambu, terakhir, kupastikan jendela dan pintu terkunci rapat, agar tak ada yang nyelonong masuk seperti kejadian minggu lalu.
Agak tegang, namun aku rasa aku sudah siap. Dalam keremangan lampu, serta lantunan romantis fana merah jambu, kuberanikan diri untuk mulai mencumbunya, “Bismillahirahmanirrahim”, 
mendadak ia ku-buka, dan tanpa ragu langsung kutekan-tekan titik sensitifnya, kudengar ia melenguh tak jelas, lalu beberapa saat kemudian munculah tulisan WINDOWS 7 lengkap dengan simbol jendela warna-warni yang sampai sekarangpun aku tak tahu maksudnya.

Wah, ternyata ia sudah agak bedebu, padahal baru kutinggal dua hari, kuambil kapas, kubasahi dengan “baby oil” lalu kuusapkan perlahan di kulitnya yang kesat, kali ini bukan lenguhan yang kudengar, melainkan dengusnya yang samar, “oh itu blower”, terus kuusap-usap ia dengan manja, jengkal demi jengkal sampai ia benar-benar mengkilap.

Kumainkan jemariku yang nakal pada setiap lekukannya, kugerayangi setiap tonjolannya yang indah, Q, W, E, R, T, Y dan seterusnya, kudengar decitan-decitan setiap kali kunaikan tempo permainanku, ia seperti menjerit kecil kegirangan, aku memang piawai, jemariku sudah berpengalaman, jempolku pada SPASI, telunjuk pada A, jari tengah pada P dan sesekali kulakukan improvisasi agar tak monoton, sesekali ia juga berkedip padaku dengan kerlipnya yang hijau saat kutekan CAPS LOCK.

Seratus delapan puluh empat halaman, tiga jam sudah ia kucumbu, dengusnya kini makin kuat, “ya ya.. aku tahu” ia sudah tidak kuat lagi, ini sudah waktunya aku berhenti, lagi pula aku sudah sudah cukup perkasa malam ini, berkat sebotol kratingdeng yang kuminum tadi, terimakasih sudah mau kugerayangi,” esok pagi kita lanjut lagi” seraya kudengar lenguhannya yang terakhir kali, SHUT DOWN.

Vildri Is Fajar, 16 September 2019

Comments

Popular Posts