Kucing Spartan
Angin dingin mulai menyeruak, menyapa bulu-bulu halus di
tanganku yang mulai berdiri, api unggun serta bara nya yang merekah membuat
kami makin dekat, duduk melingkar dan mulai bertukar cerita “ah, sekedar menghangatkan
suasana” fikirku yang sedari tadi sibuk mengancingkan jaket, kulihat beberapa
orang juga sudah membakar rokok mereka, tanda cerita semakin menarik untuk di
dengar.
Sementara itu seekor kucing kulihat berlarian kesana kemari,
dari satu tenda ke tenda lainnya, aku tahu ia mungkin lapar, ia mungkin bosan
makan serangga hutan atau tikus liar, jadi ia mencoba menghampiri kami untuk
mencoba peruntungan, siapa tau ia dapat kudapan spesial malam itu, mengingat
kami memang baru saja selesai menyantap sate kambing sisa hari raya beberapa
hari lalu.
Si kucing awalnya hanya menggoda, berjalan ragu-ragu,
kemudian menjauh malu-malu ketika kami panggil “meng-meng”, begitulah yang kami
menyapanya, kulihat ia berlari ke tenda sebelah, ada lebih banyak orang disana, api unggun nya pun
lebih besar, mungkin disana ada yang lebih spesial dari sate kambing, kambing
guling barangkali?
Namun ternyata perkiraannya meleset, orang-orang di tenda
sebelah lebih bar-bar, bukan panggilan “meng-meng” yang ia dapat, tapi “huss-huss!”
serta beberapa kerikil yang dilemparkan kearahnya, tanda bahwa mereka ingin ia
pergi, si kucing pun lari, lagipula disana tak ada kambing guling, hanya
beberapa bungkus mie instan, “yahh miskin” gerutunya (mungkin).
Si kucing kembali ke rombongan kami, kali ini ia tidak
terlalu dekat, ia cukup menjaga jarak, dan duduk manis dengan mata memelas,
sesekali ia mengeong menyapa kami yang asik bercengkrama, tapi tak satupun dari
kami sadar akan keberadaannya, “aku harus sabar” begitu gumamnya, satu menit,
dua menit bahkan hampir tiga puluh menit ia menunggu, “aku harus tetap sabar,
lagipula untuk mendapatkan sesuatu yang spesial, harus ada usaha yang besar,
aku kan kucing spartan!” itu mungkin yang difikirkannya.Kesabarannya hampir
habis, sampai ia mulai memberanikan diri untuk mengeong satu sampai dua kali.
Akhirnya kali ini usahanya membuahkan hasil, satu diantara
kami menggubris “eongan” nya,
“ada apa meng? Lapar?”
Tanya salah satu rekanku yang duduk tidak jauh darinya,
rekanku pun mengambil beberapa potong daging sisa sate yang dibakar tadi dan
melemparkannya pada si kucing, dengan sigap ia melahap potongan daging kambing
itu, sambil sesekali melirik ke kiri dan kanan memastikan tak ada kucing lain
yang akan merebut jatah hasil kerja kerasnya menunggu.
“Nahh begitulah kira-kira kiatnya, untuk mendapatkan hati
wanita kita memang harus sabar, dan berusaha, harus spartan! Teriak Restu yang
sedari tadi bercerita tentang perjuangannya mendapatkan sang isteri yang saat
itu duduk disebelahnya.
Ia juga bilang, beberapakali memang usahanya gagal, namun disitulah
keseruan yang sesungguhnya, karena dengan kegagalannya ia bisa lebih
membuktikan bahwa usahanya serius, sang isteri hanya bisa tertawa kecil
mendengar narasi perjuangan suaminya.
Cerita Restu malam itu membuatku termotivasi, bukan masalah
kucing atau sate kabmbing, namun bagaimana kita harus sabar dan bersikap
“spartan” untuk mendapatkan sesuatu, terutama hati wanita. Cerita malam itu
ditutup oleh beberapa pertanyaan dari kami yang ingin menjadi kader penerus
lelaki spartan seperti Restu, sementara itu si kucing sudah pergi entah kemana,
mungkin ia sudah merasa puas akan sate kambingnya.
Vildri Is Fajar 27 Agustus 2019.
Comments
Post a Comment