Mari Menari
Dengan adzan aku terlelap
Berselimut langit memar, menghitam,
Malatari tiang-tiang listrik dan pohon-pohon bambu yang lelah melambai seharian.
Deru ini mambawaku jauh
Jauh dari rupa yang baru ku kenal sebatas lengkuk senyum dan sayu matanya saja.
Hai.."
Mari kita menari lagi
Diatas meja, beralas puntung-puntung rokok dan segelas kopi kecut yang dengan syahdu kau seruput
Berceloteh denganku sembari bertaruh angan-angan gila.
Hai.."
Mari menari sampai larut
Bercengkrama sampai diksi kita surut
Hingga yang tersisa hanya sengalmu dan aku
Sampai masa dimana retina kita saling bertemu.
Berselimut langit memar, menghitam,
Malatari tiang-tiang listrik dan pohon-pohon bambu yang lelah melambai seharian.
Deru ini mambawaku jauh
Jauh dari rupa yang baru ku kenal sebatas lengkuk senyum dan sayu matanya saja.
Hai.."
Mari kita menari lagi
Diatas meja, beralas puntung-puntung rokok dan segelas kopi kecut yang dengan syahdu kau seruput
Berceloteh denganku sembari bertaruh angan-angan gila.
Hai.."
Mari menari sampai larut
Bercengkrama sampai diksi kita surut
Hingga yang tersisa hanya sengalmu dan aku
Sampai masa dimana retina kita saling bertemu.
Vildri Is
Fajar, Bus AKDP MGI, 14 Juli 2015
Comments
Post a Comment